Menerima Beasiswa

Sore tadi, waktu lagi asyik nyekrol linimasa Twitter, ada salah seorang following-ku yang me-retweet ini.

Ternyata, khalayak internet sedang ramai membicarakan para penerima beasiswa LPDP yang dianggap tidak menjalankan tugasnya sebagai mahasiswa dengan pelesiran. Traveling. Ini terungkap ketika, lagi-lagi, ada seorang following-ku yang nge-like tulisan dari mas Farchan soal tanggapannya terhadap tulisan ini. Judul tulisannya cukup catchy: Mahasiswa itu Kuliah, Bukan Pelesir. Termakan judul, aku pun menyempatkan membaca tulisan itu.

Sebelumnya, aku sempatkan dulu untuk membaca tulisan mbak El Nugraheni. Setelah membaca sampai akhir, baru kubaca tulisan mas Farchan Noor Rachman yang menanggapi hal tersebut. Tapi, baru satu paragraf saja aku sudah mengernyitkan dahi. Kok sampai mengernyitkan dahi? Mari kita simak paragraf pertamanya yang saya kutip langsung dari tulisan mas Farchan tanpa menambah/mengurangi tulisan tersebut.

Tugas mahasiswa penerima beasiswa itu kuliah, lulus, dan memberikan ilmunya ke masyarakat. Kalau pelesir, itu kerjaan traveler. Jangan kemaruk. Nanti kalau mahasiswa pelesir, jadi traveler, lalu menulis dan jadi travel-blogger, saya kehabisan lahan. Masa sudah dapat beasiswa masih kemaruk?

Paragraf ini seolah menyimpulkan bahwa mas Farchan merasa tidak nyaman dengan adanya mahasiswa yang pelesir. Insecure. Takut kalau lahan pekerjaannya sebagai travel-blogger diambil alih mahasiswa pelesir yang suka menulis. Menurut mas Farchan, mahasiswa tersebut kemaruk. Sudahlah sekolah dibiayai uang pajak rakyat, dapat uang saku untuk bertahan hidup, bisa jalan-jalan sambil menikmati keindahan alam ciptaan Yang Maha Kuasa, eh masih punya bakat menulis pula? Duh, kok serakah amat nih, mahasiswa pandai multitalenta? Nanti yang nggak bisa dapat beasiswa dan jalan-jalan pakai uang sendiri lalu mengandalkan kemampuan menulis sebagai travel-blogger gimana, dong? Terkalahkan oleh para mahasiswa ini?

Di paragraf kedua, alisku yang jaraknya saling berjauhan ini tiba-tiba menyatu. Makin cringy karena adanya istilah “apologi”. Awalnya kupikir istilah ini adalah kata serapan dari  bahasa Inggris “apology” yang artinya permintaan maaf, atau mungkin mas Farchan kepleset jari karena sebenarnya ingin menulis “analogi”. Tapi ternyata setelah melirik KBBI daring, apologi di sini berarti “pembelaan”. Oke, sekarang kita sudah menyamakan persepsi dulu ya soal istilah apologi ini. Kukutip lagi tulisan mas Farchan yang bikin alisku menyatu padu.

Lagipula, kenapa membuat apologi dengan playing victim? Dari tulisan itu, seolah mahasiswa yang mendapatkan beasiswa itu paling menderita. Mbok bikin apologi itu yang lebih intelek. Apa pelesir jadi obat untuk itu semua? Lebih menderita mana mahasiswa penerima beasiswa dibanding Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri, yang hampir tiap saat kita dengarkan berita tentang kenestapaannya?

Playing victim. Aku sampai membaca ulang tulisan mbak El untuk mengetahui di mana letak playing victim yang dimaksud mas Farchan. Ternyata saat mbak El menuliskan ini.

“Anak beasiswa kok tidak tampak prihatin!”

Tenang, Majelis yang Terhormat. Banyak kok di antara ‘anak beasiswa’ yang selalu kelihatan berjuang. Mereka rajin membikin status di media sosial tentang beratnya kuliah atau mepetnya tenggat tugas. Mengunggah gambar diri sedang tertimbun tumpukan buku pinjaman dari perpustakaan. Juga cerita bagaimana mereka menjadi pucat seperti mayat akibat begadang sebelum ujian dsb. dsb. Pendeknya, mereka terus memberitahu dunia perihal dirinya yang sengsara belaka. Citraan menderita bisa jadi penting buat beberapa orang, barangkali sebagai bentuk pertanggungjawaban atas beasiswa yang diterima. Mekanisme akuntabilitas. Apakah salah? Jelas tidak. Namun, enggak lantas juga jadi benar di mata rakyat, toh? Para pembayar pajak tentu bisa saja lantang berteriak, “Mengeluh melulu, sudah bagus dibayarin!”

Menurutku, justru mas Farchan dan kawan-kawannya yang memiliki opini serupalah yang playing victim. Menuduh mbak El dan rekan-rekan penerima beasiswa LPDP lainnya tidak terlihat prihatin dengan pelesiran sana sini. Ketika para penerima beasiswa ini menjawab tuduhan tersebut dengan menampilkan “penderitaan”nya, eh malah datang tuduhan baru: playing victim.

Sebagai seorang mahasiswa yang sudah merasakan bangku kuliah selama dua kali, tentu dengan sangat mudah aku bisa menjawab pertanyaan mas Farchan: pelesir memang menjadi obat kala suntuk dengan segala tugas kuliah. Padahal, tolong dicatat, aku tidak pernah pelesiran ke pantai, gunung, dan pelesiran-pelesiran lain seperti standar society. Pelesiranku adalah nonton film, masak, baca buku, atau pacaran. Setiap orang punya cara pelesiran yang berbeda-beda untuk mengatasi rasa suntuk terhadap rutinitas. Dan menurutku, selama cara mereka pelesiran tidak merugikan orang lain atau melanggar hukum, ya sah-sah saja. Mungkin semasa kuliah mas Farchan tidak pernah mengalami suntuk belajar sehingga nggak merasakan bagaimana otak bisa segar kembali sepulangnya pelesiran.

Hal lain yang kusoroti dari paragraf kedua mas Farchan ini adalah soal membandingkan mahasiswa penerima beasiswa LPDP ke luar negeri dengan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri. Ini blunder banget sih, mas. Perbandingan Anda tidak apple-to-apple. Akan lebih masuk akal kalau mas Farchan memberikan contoh mahasiswa lain penerima beasiswa LPDP yang mampu konsisten belajar di negeri orang tanpa pelesiran barang sedetik.

Izinkan aku memberikan kutipan lain lagi dari tulisan mas Farchan.

Namun, coba jelaskan, itu jalan-jalan pakai uang apa? Tidak usah ngomong soal transparansi, akuntabilitas, atau apologi aneh-aneh lainnya. Cukup jelaskan itu uang jalan-jalan dari mana. Ini era keterbukaan informasi, makanya mahasiswa penerima beasiswa juga harus terbuka.

Seandainya pun mahasiswa tersebut mengumumkan asal dana pelesirannya (yang mungkin saja bersumber dari uang tabungan atau uangnya sendiri tanpa menyentuh dana beasiswa), aku ragu mas Farchan dan kawan-kawan yang sependapat dengan mas akan percaya. Cibiran seperti, “Uang tabungannya dari mana? Dari allowance LPDP juga palingan.” bisa saja muncul di tulisan lain.

Penerima beasiswa menerima uang dari negara dengan cara yang mudah. Eh, dihabiskan begitu saja untuk pelesir?

Wah, kalau  mudah, aku udah daftar dari dulu, mas. Perlu mas ketahui, aku kenal secara pribadi dengan seorang penerima beasiswa LPDP yang dibiayai untuk melanjutkan studi di Belanda. Sebelum berangkat, beliau mampir ke rumahku. Karena aku juga ingin mendapatkan beasiswa serupa, aku pun melontarkan banyak pertanyaan agar lolos seleksi beasiswa LPDP. Di tengah jawaban yang beliau berikan, aku ingat beliau berkata, “Tapi nanti setelah lulus, kamu harus kembali ke Indonesia. Harus kasih kontribusi ke Indonesia. Dan selama kuliah di sana harus sudah dipikirin, mau ngasih umpan balik apa sebagai tanda terima kasih.

Tau nggak mas, seketika itu juga aku menciut. Kalau aku suatu saat mendapatkan beasiswa itu dan nggak bisa kasih kontribusi apa-apa gimana dong? Kegelisahanku itu kusampaikan pada yang bersangkutan, sekaligus juga kutodong pertanyaan, “Mbak sendiri siap nggak, nanti pulang harus mengabdi ke negara?”

Beliau menjawab, “Ya harus siap dong! Kan sudah dikasih beasiswa.”

Percakapan itu sebagai salah satu bukti, bahwa mahasiswa penerima beasiswa LPDP (khususnya yang melanjutkan studi ke negara orang) tidak hanya memikirkan pelesiran. Tapi juga tanggung jawabnya sebagai mahasiswa untuk menuntut ilmu dan mengabdikan diri pada negara sebagai wujud pengaplikasian ilmu yang didapat. Bukan serta merta para mahasiswa ini menganggap beasiswa itu hadiah yang bisa diperlakukan seenaknya. Mungkin mas Farchan menjumpai beberapa mahasiswa seperti itu. Tetapi menggeneralisasi mereka dan memberi penghakiman bahwa mereka tidak layak pelesiran karena dianggap menghabiskan uang negara? Sama sekali bukan tindakan bijak yang keluar dari staf direktorat Humas Dirjen Pajak yang mendapat gelar cum laude setelah lulus dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara.

Mas, tahu nggak, apa pentingnya pelesiran? Sebagai seseorang yang mendeklarasikan diri travel-blogger, aku yakin mas tahu. Ada satu kutipan terkenal dari Augustine of Hippo,

“The world is a book, and those who don’t travel only read one page.”

Dan tentu saja, pelesiran, apa lagi di negeri orang, akan menambah wawasan. Mas coba deh baca buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor. Buku itu merupakan kumpulan jurnal mahasiswa Pemasaran Internasional di kelas Pak Rhenald Khasali yang ditugaskan untuk solo traveling ke negeri orang. Lho, ini Pak Rhenald kan dosen di Universitas Indonesia yang notabene mahasiswanya sangat majemuk dan tidak semuanya berasal dari keluarga mampu, kok malah nyuruh mereka pelesiran ke luar negeri, sih? Biayanya gimana? Minta orang tua? Udah bagus dikuliahin di universitas ternama, masih harus minta uang saku lagi?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan terjawab setelah mas baca bukunya. Aku udah baca kedua serinya lho, mas. Dan setelah membaca itu, aku jadi tahu pentingnya pelesiran. Pelesiran selain bisa menambah wawasan, juga dapat membuka pikiran. Bonusnya, pelesiran bisa bikin kita mengenali diri kita sendiri. Duh, aku jadi ingin pelesiran kan.

Mas Farchan mungkin mbatin, anak ini kok melenceng dari topik awal? Nggak mas, itu tadi hanya gambaran saja tentang perlunya pelesiran. Maaf ya mas kalau aku terkesan menggurui padahal mas kan sudah pelesiran ke mana-mana.

Perihal mahasiswa penerima beasiswa pelesiran, mbok ya biarin aja toh, mas. Apa mas tahu, sebenarnya apa rencana ke depan mahasiswa-mahasiswa tersebut? Siapa tahu, dengan mereka pelesiran, mereka bisa tiba-tiba dapat ide mau membangun Indonesia seperti apa. Siapa tahu, setelah berkunjung ke Atomium di Belgia, mereka kepikiran untuk membuat museum serupa. Atau saat melihat bagaimana Plovdiv Roman Theatre di Bulgaria yang dulunya megah dan sekarang hanya menyisakan puing, mereka dapat mengambil hikmah bahwa jika Tuhan sudah menghendaki sesuatu untuk hancur maka hancurlah. Atau mungkin ketika mereka melihat bagaimana penataan transportasi air di Venezia begitu tertata apik, tercetus pemikiran brilian untuk mencoba menerapkannya di Indonesia suatu hari nanti jika mereka kembali. Siapa tahu, mas? Mas tahu? Aku sih nggak tahu.

Mahasiswa tugasnya kuliah, betul. Tanggung jawab utamanya ada di sana, apalagi bagi para penerima beasiswa ini. Lantas, mereka yang sudah mengemban tanggung jawab tersebut tidak boleh merasa penat? Tidak boleh lelah? Tidak boleh rekreasi? Nanti, kalau mereka pada capai dan depresi, mas mau membiayai bill dokternya? Atau nanti ketika mereka suntuk lalu nggak sengaja keceplosan marah-marah di sosmed, nanti dinyinyirin “kurang piknik”. Lha gimana, wong mau piknik aja dilarang.

Setahuku, dana beasiswa yang diberikan pada penerimanya ini nggak ada ketentuan khususnya kalau “nggak boleh dipakai senang-senang.” Setahuku, dana tersebut ya hanya diberikan untuk biaya hidup. Uang saku. Mau dipakai senang-senang atau tidak, ya urusan penerimanya. Sudah pada gede ini, sudah ngerti tanggung jawab, kan?

Mahasiswa penerima beasiswa mau pelesiran atau tidak, ya sudah, biarkan saja. Iri jangan gitu-gitu amat dong. Biar nggak iri, kurangi mainan Instagram ya, mas Farchan dan kawan-kawan. Instagram memang berdampak buruk, aku sudah pernah nulis tentangnya di sini. Lebih baik perbanyak membaca. Dan pelesiran. Uhuy.

NB:

Mbak El Nugraheni bukan penerima beasiswa LPDP ya, beliau penerima beasiswa dari pemerintah negara lain.

UPDATE:

Sehari setelah tulisan ini dibuat dan kusampaikan langsung pada mas Farchan, beliau membuat klarifikasi mengenai tulisannya yang berjudul Mahasiswa itu Kuliah, Bukan Pelesir. Klarifikasi tersebut dapat dibaca di sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s