Asli atau Palsu?

Biasanya video apa sih yang muncul di recommendation tab akun YouTube kalian? Video gaming? Video tutorial? Atau vlog? Video-video yang direkomendasikan YouTube ini berdasarkan video yang sering kita tonton. Entah video apa yang sudah aku tonton sebelumnya, beberapa hari lalu, YouTube merekomendasikan satu video dengan judul: Are You Living an Insta Lie? Social Media Vs. Reality, yang membuatku penasaran.

Mari kita telaah makna dari Insta Lie menurut Ditch The Label, pembuat video tersebut.

Insta Lie (verb): an intentionally false representation of real life on social media.

Representasi palsu dari kehidupan nyata yang disengaja pada media sosial. Hmm, kepalsuan yang disengaja, ya?

Video ini diawali dengan seorang perempuan yang berada di kamar mandi, menghadap cermin, cuci muka, sikat gigi, kemudian mulai memulaskan make up tipis. Setelahnya, sang perempuan kembali ke kasur, mengangkat ponsel, dan ya bisa ditebak apa yang dilakukannya kemudian: selfie. Hasil swafoto itu diunggah ke Instagram lengkap dengan tagar #iwokeuplikethis, sesuai dengan tulisan yang ada di kaos si perempuan.

I woke up like this yang nggak like this, ya? 🙂

Video berdurasi tiga menit ini diwarnai dengan kebohongan-kebohongan lain yang sering kita lakukan demi mendapat pengakuan orang lain (yang ironisnya, seringkali tidak kita kenal) di media sosial. Kalau mau jujur dengan diri sendiri, coba akui hal-hal ini:

  • Berapa kali kita pergi ke suatu tempat hanya untuk mengambil foto di sana demi kepentingan feed Instagram?
  • Pernahkah kita meramaikan kegiatan car free day yang sedianya untuk sarana olahraga pagi tanpa terganggu lalu lintas kendaraan bermotor dengan mengenakan celana jeansmake up yang on point, dan tidak lupa membawa kamera?
  • Atau mengunjungi tempat wisata hanya agar dapat mengambil foto sebanyak-banyaknya dan berpose sekeren-kerennya untuk diunggah lengkap dengan caption, “Vitamin sea!” atau caption berisi kutipan yang bersumber dari Google yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan foto?

Jujur saja, aku pernah merasakan hal itu. Berpikir bahwa, “Si ini aja udah pernah ke situ, masa aku belum sih,” atau, “Spot foto instagrammable, nih! Harus foto di sini dan upload ke ig!” Pikiran ini masih terus bersarang sampai mama mengajakku pergi ke luar pulau untuk sebuah acara yang sifatnya nggak wajib. Teracuni oleh pikiran betapa kerennya feed Instagram-ku nanti jika diisi dengan pemandangan di pulau itu, aku mengiyakan ajakan mama dengan dalih butuh liburan. Tapi beberapa hari kemudian aku bertanya pada diriku sendiri, sebenarnya yang aku butuhkan itu liburan atau pengakuan?

Pada akhirnya aku memilih untuk nggak ikut. Bagiku, liburan bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Membaca buku di rumah, maraton serial teve, atau menikmati quality time bersama orang-orang terdekat pun bisa menjadi alternatif liburan.

Mencari Validasi

Kita tentu masih ingat dengan sindiran beberapa orang terhadap penonton konser Coldplay beberapa waktu lalu. Banyak cibiran untuk para penonton yang melambai-lambaikan ponsel dan kameranya ke udara. Menganggap para pengabadi momen ini tidak menikmati konser dan hanya membayar tiket untuk membeli stok foto dan video yang bisa dipamerkan (dan mungkin dibanggakan).

Aku pernah memerhatikan seorang pengunjung kedai kopi yang kebetulan berada di depan mejaku. Dua orang gadis (yang dalam perkiraanku masih) SMA memesan masing-masing secangkir kopi. Salah satu gadis itu kemudian mengeluarkan buku bacaan dari tas, menata kopi agar terlihat pas di mejanya, dan meminta si teman untuk memotret dirinya yang seolah tampak membaca buku tersebut (padahal aku yakin betul dia hanya berpura-pura asyik membaca). Butuh beberapa kali take hingga hasil foto sesuai dengan yang diharapkan sang gadis. Puas dengan foto yang diambil, si gadis kopi pun memasukkan kembali buku ke dalam tasnya, dan bukannya berbincang dengan kawannya, dia malah memelototi layar ponselnya. Aku nggak tahu ponselnya menawarkan keseruan apa sehingga dia mengorbankan momen dengan yang sudah bersedia menemani.

Ini persis dengan apa yang Ditch The Label coba ingatkan pada kita: kepalsuan di dunia maya. Semua foto yang diunggah di Instagram memang terlihat keren, bagus, menarik, dan bahagia. Tapi apa iya, foto-foto itu sekeren, sebagus, semenarik, dan sebahagia aslinya?

Kita semua ingin menjadi populer dan diakui banyak orang. Terus terang saja, pernahkan kalian merasa gelisah ketika foto yang diunggah hanya mendapat sedikit likes? Adakah kepuasan ketika melihat 100 lebih likes terpampang di foto milik akun kita? Mengapa kita gelisah? Mengapa kita merasa puas?

Secara nggak langsung, hadirnya media sosial seperti Instagram memengaruhi rasa percaya diri kita. Sadar nggak sadar, kita membandingkan kehidupan yang kita alami dengan kehidupan orang lain yang tampak begitu sempurna. Kita cemburu dengan si A karena digadang-gadang memiliki #relationshipgoals. Kita cemburu dengan si B karena pujian selalu ada di kolom komentar akunnya. Kita mencaci maki orang yang tidak kita kenal karena tidak suka dengan isi postingannya. Kita terpaksa mem-follow back agar jumlah followers tidak berkurang atau terpaksa memencet tombol hati agar mendapat perlakuan serupa. Kita memaksa diri untuk pergi ke sana, membeli ini, melakukan itu, dan tidak lupa untuk meng-update setiap detiknya di media sosial; demi terlihat kekinian. Kita bahkan nggak segan membeli followers atau likes demi terlihat populer.

Kita membohongi diri sendiri untuk sebuah pengakuan. Kita menjadi palsu.

Menjadi Siapa Saja

Di internet, khususnya di media sosial, kita bisa menjadi siapa saja yang kita inginkan. Pencitraan itu bisa dimulai dari merapikan feed, menulis cuitan yang puitis, bahkan membuat akun anonim yang bisa menyerang siapa saja bersenjatakan kebencian. Tidak seperti dunia nyata, kehidupan daring menawarkan hal-hal yang lebih menarik karena kita meracik sendiri identitas yang akan digunakan.

Dengan keuntungan seperti ini, ingin menjadi palsu atau tidak, hanya kalian sendiri yang bisa memutuskan.

NB: Kalian harus melihat video yang dimaksud dalam tulisan ini di sini.

Advertisements

8 thoughts on “Asli atau Palsu?

  1. Hendi Setiyanto says:

    aku dulu juga pernah seperti itu saat di warkop, konyol juga saat diingat. kinii, aku pencet tombol like ya kalau benar2 suka saja, terserah nantinya pas posting mau dapat like berapa, ga urusan sama sekali…sumpah, berpura2 itu melelahkan hehehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s